IKLAN

Social Distancing, Metode Peribadatan Sufi

Oleh Agus Muchsin

Social distancing sekarang ini menjadi pembahasan baru dalam kajian sosiologi, terma ini umum digunakan untuk menggambarkan pola hidup menjaga jarak dengan individu lain. Pemaknaan ini tidak cukup jika hanya sampai pada arti leksikal semata karena akan melahirkan pemahaman negatif, terlebih jika di sadur dalam terminologi etika karena di anggap tidak bermoral, perilaku tidak bersahabat dan berupaya untuk menghindar dari orang lain. 
 

Menutup diri dari orang lain dalam kajian akhlak adalah sesuatu yang dilarang sebagaimana dalam HR Imam Muslim. Rasulullah bersabda:

وعن أبي هريرة  قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه ﷺ: لا تَحاسدُوا، وَلا تناجشُوا، وَلا تَباغَضُوا، وَلا تَدابرُوا، وَلا يبِعْ بعْضُكُمْ عَلَى بيْعِ بعْضٍ، وكُونُوا عِبادَ اللَّه إِخْوانًا، المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِم: لا يَظلِمُه، وَلا يَحْقِرُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ،

Artinya:
Dari Abu Hurairah berkata. Rasulullah saw berdabda: Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membelakangi, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina.

Paradigma social distace seperti pada teks hadis di atas, di sebut sebagai al tadabur (saling membelakangi). Sikap tidak bersahabat, tertutup untuk orang lain karena alasan kebencian. Pola hidup seperti ini sangat diharamkan, karena qaidah usul al fiqhi menetapkan hukum dasar, الاصل في النهي للتحريم (hukum dasar dari suatu larangan adalah haram).

Histori penggunaan terma ini, hampir bersamaan dengan munculnya virus covid 19, namun pun demikian terdapat perbedaan antara makna dasar dengan operasinal penggunaan bahasa keseharian tersebut. Terjadinya pergeseran makna secara lingustik diakronis menggiring pada pemaknaan berupa tindakan preventif untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid 19.

Islam memperkenalkan pemutusan (distance) tersebut dengan terminologi khilwat. Dalam bahasa Arab berasal dari fi'il, khalaa-yakhluu-khalwatan artinya menyepi, menyendiri, mengasingkan diri bersama dengan seseorang tanpa kesertaan orang lain.

Terma ini umumnya digunakan oleh dua disiplin ilmu.Pertama, Ilmu fiqhi memberikan ruang pembahasan tersendiri tentang larangan khalwat sebagai hubungan pergaulan antara laki-laki dan perempuan di tempat sunyi, atau berbicara hanya empat mata (berduaan), tanpa keikut-sertaan mahram.

Sebagaimana dalam HR.Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

لا يخلُوَنَّ رجلٌ بامرأة إلا ومعها ذو محرم، ولا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم
Artinya.
Tidak boleh seorang laki-laki dan perempuan berada di tempat sunyi terkecuali bersama dengan mahramnya, dan tidak boleh melakukan perjalanan dengan laki-laki terkecuali bersama mahramnya.

Kedua, Ilmu Tasawwuf menyebutnya sebagai metode/jalan (الطريقة) untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi. Seorang sufi akan rela berdiam diri di tempat sunyi,  mengisolir dirinya dari keramaian demi untuk memutus mata rantai dunia,  tekanan nafsu dan kenikmatan duniawi ( الانقطاع من الدنيا وشهواتهاولذاتها), demi untuk mensucikan dirinya agar bisa sampai ke dzat maha suci.

Praktik ini didasarkan pada amalan spiritual oleh Rasulullah saw ketika berkhalwat di gua Hira hingga didatangi oleh malaikat Jibril as, dengan membawa wahyu pertama yakni lima ayat dalam surah al 'alaq.

Sepertinya praktik khalwat yang sudah sekian lama ditinggalkan oleh umat,  sekarang ini kembali di perkenalkan sebagai salah satu jalan untuk mendekatkan diri pada Allah swt.

Social distance merupakan rekayasa sosial yang secara langsung di desain oleh Allah swt bagi orang beriman, agar dapat mengabaikan kebisingan dan hiruk pikuk suara duniawi, karena di samping itu terdapat suara gaib yang diabaikan.

Allah swt berfirman dalam QS.  al Isra: 44

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
 

Terjemahnya.
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.




AYO SEBARKAN BERITA INI KE:

Disarankan Untuk Anda:

loading...

0 Response to "Social Distancing, Metode Peribadatan Sufi"

Post a Comment