Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Arkeolog Khawatir Lukisan Tertua Didunia di Pangkep Rusak Akibat Aktivitas Tambang

KORANPANGKEP.CO.ID - Para Arkeolg dunia yang ada di Indonesia dan Australia menyebutkan lukisan lukisan purbakala tertua didunia yang berusia 44 ribu tahun yang berada di kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan kabupaten Maros terancam kelestariannya akibat adanya sejumlah aktivitas tambang batu kapur dikedua daerah tersebut

Menurut Budianto Hakim, salah satu arkeolog yang terlibat dalam penemuan lukisan tertua di Maros menyebutkan salah satu contoh adalah lukisan tertua yang ada di bulu sipong kelurahan Kalabbirang kecamatan Minasatene kabupaten Pangkep, Sulsel, yang saat ini lahannya dikuasai oleh PT. Semen Tonasa dimana ditempat tersebut terdapat penambang bahan baku untuk pembuatan semen dan batu Marmer dikhawatirkan dampak penambangannya akan merusak lukisan tertua yang menjadi bukti sejarah peradaban manusia didunia.

"Sebagai peneliti yang menghabiskan seluruh karier di Sulawesi Selatan, saya sangat khawatir dengan kondisi gua-gua prasejarah di sini, yang dikelilingi oleh pertambangan semen serta marmer," kata Budianto Hakim, salah satu arkeolog yang terlibat dalam penemuan lukisan tertua di Maros.

Kekhawatiran para akreolog ini sangat mendasar terlebih lagi Lukisan-lukisan itu, karena usianya yang sudah tua, sangat rapuh dan mudah rusak. terlebih lagi akibat aktivitas tambang disekitarnya yang dominan dengan debu yang dapat menutupi permukaan lukisan serta getaran aktivitas tambang yang bisa rusak karena sudah tua dan rapuh

Seperti yang diutarakan Adam Brumm, Maxime Aubert, dan Adhi Oktaviana - tiga arkeolog dari Griffith University, Australia - yang meneliti lukisan tersebut membeberkan analisis mereka dalam artikel di The Conversation Indonesia: Dilansir dari The Guardian, Jumat (21/2/2020), juga menyebutkan lukisan tertua di dunia tersebut terancam aktivitas tambang milik Semen Tonasa. Lukisan tersebut diyakini sebagai asal-muasal agama dalam peradaban manusia. Mereka mengatakan bahwa debu dari pertambangan bisa merusak lukisan-lukisan purba tersebut.

"Jika situs (purbakala) seperti ini ditemukan di Prancis atau Spanyol, maka akan menjadi penemuan besar. Area ini adalah kunci untuk memahami evolusi kognitif dan budaya spesies kita," sesal Maxime Aubert, arkeolog Australia, yang juga terlibat dalam penelitian lukisan purba tersebut.

Pemantauan oleh BPCB mengkonfirmasi bahwa permukaan dinding gua batu kapur tempat gambaran-gambaran ini dibuat mulai terkelupas dan menghapus seni yang ada. Proses ini telah berjalan begitu cepat: di beberapa lokasi, gambaran seni ini hilang 2-3 cm dalam tiap bulannya.

"Jika karya seni hebat yang sangat tua ini menghilang dalam kehidupan kita, itu akan menjadi sebuah tragedi. Kita perlu data konkrit yang dapat menjelaskan mengapa seni batuan yang berdampak besar ini terus rusak dan apa saja yang dapat kita lakukan - dan kita membutuhkan data ini segera." tukasnya

Lukisan kuno dari Pulau Sulawesi ini terdiri dari sebuah adegan yang menggambarkan makhluk setengah manusia setengah hewan yang sedang berburu babi liar dan binatang kecil seperti kerbau dengan tombak atau tali.

Penggambaran pemburu bertubuh setengah manusia dan setengah binatang mungkin juga merupakan bukti awal dari kemampuan kita untuk memahami hal-hal yang tidak ada di dunia alami. Kemampuan ini menjadi landasan pemikiran dan pengamalan agama yang asal-usulnya telah lama diselimuti misteri.

"Sebagaimana yang kami laporkan baru-baru ini di Nature, studi terbaru kami menunjukkan lukisan gua ini adalah karya seni tertua di dunia yang ditemukan (karena gambar-gambar yang dilukiskan bersifat kiasan di alam)." Kata Maxime Aubert, arkeolog Australia

Situs seni gua baru ini dinamakan Leang Bulu Sipong 4 dan kolega kami dari Indonesia menemukannya pada Desember 2017. Ini merupakan satu situs dari ratusan situs peninggalan gua di wilayah kapur Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

"Pada 2014, kami mengumumkan bahwa sebuah gua (Leang Timpuseng) di Maros-Pangkep memiliki salah satu motif seni batu tertua di dunia yang berupa stensil tangan yang dibuat setidaknya 40.000 tahun yang lalu. Kami juga baru-baru ini juga melaporkan sebuah lukisan figuratif seekor banteng (satu spesies ternak liar) yang berasal setidaknya 40.000 tahun yang lalu dari sebuah gua yang terletak berdekatan dengan Pulau Kalimantan." paparnya

Maxime Aubert menambahkan Sampai sekarang, lukisan yang ada di bulu sipong ini menjadi motif figuratif yang paling awal diketahui di planet ini. Selain dari keantikan luar biasa dari lukisan ini, ini adalah kali pertama narasi visual yang rinci atau cerita telah teridentifikasi dalam seni gua pada periode awal.

"Menurut pandangan ini, adegan pertama dan makhluk manusia-binatang (dikenal sebagai therianthropes, setengah manusia dan setengah hewan) tersebut akan muncul jauh setelah lukisan di Eropa. Tapi seni di Leang Bulu Sipong 4 menunjukkan komponen utama dari budaya artistik yang maju dan telah ada di Sulawesi sejak 44.000 tahun lalu, yakni seni figuratif, adegan-adegan, dan therianthropes. Mungkin seni kompleks seperti ini sudah dibuat di suatu tempat di Asia atau Afrika lebih lama lagi." tambahnya

Pandangan umum di Eropa adalah bahwa seni batuan manusia yang pertama terdiri dari simbol geometeris sederhana yang berevolusi menjadi lukisan figuratif hewan indah dari Prancis dan Spanyol dari sekitar 35.000 tahun yang lalu.

Dalam budaya Barat, kita sangat akrab dengan gambaran tubuh sebagian manusia dan sebagian binatang seperti manusia serigala. Tapi therianthropes sering memiliki dampak agama dan kepercayaan yang besar.

Sebagai contoh, orang Mesir kuno menghormati dan takut akan banyak dewa dan iblis yang bentuk fisiknya gabungan antara hewan dan manusia, seperti dewa kematian berkepala serigala, Anubis, dan Sphinx yang memiliki tubuh singa dan kepala manusia.

Kapan kita pertama kali mengembangkan kemampuan kita untuk membayangkan makhluk luar biasa seperti itu?

Sampai sekarang, gambar yang paling awal diketahui dari seorang therianthrope dalam arkeologi dunia adalah “Manusia singa” dari Jerman yang berupa sebuah patung manusia berkepala kucing dan diukir dari gading mamut raksasa. Para arkeolog Nazi menemukan artefak ini pada 1939 dan konon disebut artefak ini berusia 40.000 tahun.

Dengan umur 44.000 tahun atau lebih, gambar-gambar dari Leang Bulu Sipong 4 mendahului “Manusia singa”. Mereka mungkin petunjuk awal dari kemampuan kita untuk membayangkan keberadaan entitas yang tidak nyata seperti setengah manusia-setengah hewan.

Sementara itu Abdul Rasak, kepala bagian reklamasi tambang Semen Tonasa, menyebutkan ketika lukisan-lukisa purba itu ditemukan pada 2017, Semen Tonasa setuju untuk menjadikan area seluas 3,6 hektare di sekeliling Bulu Sipong sebagai situs yang dilindungi.

"Setelah kami tahu tentang penemuan itu, kami menjadi area ini sebagai situs budaya yang dilindungi," kata .

"Kami tadinya kira bahwa itu hanya lukisan biasa, tetapi kini kami bangga akan peninggalan nenek moyang kami," lanjut dia.

Lambat laun karya seni gua Sulawesi merupakan sebuah hadiah dari permulaan budaya manusia. Tapi hadiah ini akan runtuh di depan mata kita, seiring perkembangan kemajuan zaman, jika dari sekarang kita tidak menjaganya.




(ADM-KP)

1 comment for "Arkeolog Khawatir Lukisan Tertua Didunia di Pangkep Rusak Akibat Aktivitas Tambang "

  1. Harusnya ada kerja sama dengan pemerintah setempat juga itu

    ReplyDelete