IKLAN

Gegara Jalan Setapak, Sepasang Suami Istri di Kalabbiran Perkarakan Lurahnya di Polisi

KORANPANGKEP.CO.ID - Sepasang suami istri Daeng Roa (60 tahun) dan istrinya Nuhria (58 tahun) Warga Kampung Borong-borong, Kelurahan Kalabirang, Kecamatan Minasaten, kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) terpaksa memperkarakan lurahnya Adnan Hari dan tetangganya Jamaluddin ke Mapolsek Minasatene karena diduga mengintimidasi warganya, jika tidak menyerahkan tanah untuk dijadikan jalan setapak dia dan sekeluarga tidak lagi akan dilayani di kelurahan.

Kejadian bermula saat pihak kelurahan hendak membuat jalan setapak, dan Adnan Hari selaku lurah Kalabbiran meminta kepada warganya tersebut untuk memberikan tanahnya selebar 2 meter untuk pembuatan jalan setapak tersebut, namun tak disanggupi oleh daeng Roa karena sesuai kesepakatan yang dibutuhkan hanya 1 meter 75 centimeter saja

Daeng Roa dan Istrinya mengaku Lurah Kalabbirang sempat datang kerumahnya membawa surat pernyataan untuk ditandatangani namun setelah dibaca oleh anak Daeng Roa surat pernyataan tersebut kembali diambil dan disobek oleh Adnan Hari. 


Setelah itu, kata Nuhria Lurah Kalabirang mengancamnya jika tidak memberikan tanah seluas dua meter itu Ia tak akan tidak akan dilayani jika mengurus sesuatu dikelurahan, Bahkan, mengancam sepasang suami istri itu mengeluarkan dari penerima sertifikat tanah gratis.

"Anak saya Rasyid, sempat marah karena pak lurah sempat datang bawa surat pernyataan, tetapi saat anak saya baca isi surat pernyataan itu, pak lurah merobek dan mengancam saya dan keluarga, Katanya saya tidak dilayani di kelurahan lagi kalau tidak saya kasi dua meter itu, padahal kan sesuai aturannya pemerintah cuma 1 meter 70 cm saja," beber daeng Roa.

Karena tidak ingin ribut dan takut tidak dilayani lagi di kelurahan, Nuhria dan Roa kemudian memberikan tanah seluas dua meter tersebut untuk di bangun jalan setapak. Roa dan istirnya mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa memberikan tanah seluas dua meter sesuai permintaan Adnan Hari Lurah Kalabirang. Namun Nuhria dan suaminya Roa mengaku saat itu Lurah Kalabirang tidak adil dengan dirinya.

Persoalan saat itu kemudian selesai, dan jalan setapak tersebut kemudian dibangun oleh pihak kelurahan, dan setelah beberapa bulan kemudian Nuhria kembali lagi ke kantor Lurah Kalabirang untuk meminta izin memondasi pembatas rumahnya.

Namun ketika Daeng Roa memondasi batas rumahnya pondasi tersebut, kembali mengambil sebagian badan jalan setapak yang berukuran 2 meter tersebut sehingga hanya menyisahkan 1 meter 70 centimeter, hal ini kemudian di komplain oleh warga dan tetangga daeng Roa yang bernama Jamaluddin dengan membongkar pondasi batas rumah yang telah dibuat daeng Roa. Buntut persoalan itu, Roa dan Nuhria berkali-kali dikomplain oleh warga sekitar untuk menuruti permintaan Jamaluddin.

"Tetangga saya itu membongkar pondasi itu dan meminta memperluas lagi jarak jalan setapak hingga 1 meter 70 cm tersebut," ungkapnya.

Mendapat perlakuan tersebut dari Jamaluddin, Nuhria kemudian melaporkan hal ini ke kelurahan. namun Adnan meminta Nuhria memberikan lagi sisa itu untuk jalan setapak tersebut.

"Saya tidak tahu apa maunya ini pak Lurah, sama tetangga yang namanya Jamaluddin dia pergi bongkar pondasiku, dia sirami oli dan palu-palui padahal itu jelas pembatas saya," ujarnya.

Tidak ada titik temu, Roa dan istrinya menganggap Lurah Kalabirang tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, begitupun dengan Pihak Kecamatan, khususnya Camat Minasatene, Satria Sammana juga tidak bisa menyelesaikan persoalan ini. hingga sepasang suami istri itu mengadu ke Polsek Minasatene, namun sudah sebulan, sepasang suami istri itu menunggu umpan balik dari Polsek Minasatene tetapi belum juga membuahkan hasil.

"Saya ke Polsek melapor atas laporan pengancaman tetapi belum ada hasilnya," katanya.

Mata Nuhria berkaca-kaca, dia terisak tidak bisa menahan kekecewaanya karena hanya persoalan tanah yang jika diminta baik-baik menurutnya, dia juga akan memberikan tanahnya dengan ikhlas. Nuhria sudah memberikan tanahnya dengan ikhlas, tetapi dia tidak tahu mengapa Lurah Kalabirang dan tetangganya memusuhi dirinya. Persoalan ini sebenarnya, kata Nuhria ada pada Lurah Kalabirang jika saja dia tegas dan menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.

"Itumi nak, makanya saya mengadu ke Polsek karena tidak tahuma bagaimana saya ini dan keluarga diancam berkali-kali di kampungku sendiri hanya karena persolan tanah untuk jalan setapak," tambahnya.

Kepala Kelurahan Kalabirang, Adnan Hari membantah pernyataan Roa dan istrinya Nuhria. Adnan menjelaskan, saat itu mereka sudah dimediasi tiga kali di kantor lurah.

"Terkait pernyataan pak Roa, saya meminta paksa tanahnya, itu tidak benar, saya tidak pernah paksa beliau. Buat apa juga saya mau paksa orang bukan kepentingan saya, malah kita mau bantu bagaimana kasusnya ini cepat selesai," terangnya

Adnan mengaku Setelah beberpa bulan berjalan polemik baru kembali muncul Adnan kemudian mencoba memediasi lagi hal ini ke Kantor Polsek Minasatene tetapi belum ada titik temu. Jamaluddin yang sudah ingin mengganti rugi pondasi yang telah dirusaknya, dan menegembalikan kebatas semula yang telah dibuat daeng roa namun daeng Roa dan istrinya tak ingin damai

"Jadi Pak Roa ini sudah pondasi batas jalan, tetapi beberapa bulan kemudian entah apa yang merasuki pak Roa dia kembali menambah pondasinya agak ke dalam badan jalan, cuma saat ini, yang ditemani bersengketa Jamaluddin itu sudah mau ganti rugi Rp 4 juta dengan mengikuti batas pondasi awal tetapi pak Roa tidak mau lagi, sehingga kasus ini masih belum terselesaikan," jelasnya.

(ADM-KP)

AYO SEBARKAN BERITA INI KE:

Disarankan Untuk Anda:

loading...

0 Response to "Gegara Jalan Setapak, Sepasang Suami Istri di Kalabbiran Perkarakan Lurahnya di Polisi"

Posting Komentar