Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Miris, 157 jiwa di Kampung Bohe Marang Tak Punya Masjid dan Fasum Lainnya

KORANPANGKEP.CO.ID - Miris betul kehidupan sebanyak 30 kepala Keluarga dan 157 jiwa warga yang pemukimannya terletak ditengah area pertambakan dan pesisir sungai di Kampung Bohe, Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pasalnya selain mereka belum memiliki akses jalan mereka juga belum memiliki sarana masjid untuk beribadah sehari hari, serta fasilitas umum lainnya

Akibatnya untuk melaksanakan ibadah berjamaah dimasjid mereka harus berjalan kaki atau mengendarai perahu beberapa kilometer utamanya pada saat shalat jumat berjamaah menuju salah satu masjid yang ada di ibukota kelurahan Talaka, Kecamatan Ma'rang Pangkep.

Seperti yang diutarakan salah seorang warga Kampung Bohe yang bernama daeng Siga. Dia menceritakan mirisnya kehidupan di kampungnya. Sudah puluhan tahun, kondisinya seperti itu. Tidak pernah ada perubahan. Masyarakat di Kampung Bohe seakan terisolir, sebab tak ada fasilitas umum yang membantu. Bahkan sarana ibadah pun tak ada.

Padahal kampung tersebut masuk dalam wilayah Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang. Artinya, cukup dekat dari akses pemerintahan. Namun, faktanya, mereka seperti terputus dari sarana sekelas daerah kelurahan.

Daeng Siga juga menjelaskan bahwa di kampung tersebut sejak dahulu tidak ada masjid, sehingga warga kampung harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk mencapai masjid di kampung sebelahnya.

"Tidak ada masjid. Masjid cuman ada di kampung seberang. Jadi memang susah kalau mau salat berjamaah selama ini," jelasnya.

Karena sulitnya akses ibadah dan tentunya juga sangat sulit untuk melaksanakan ibadah salat 5 waktu secara berjamaah tepat waktu dimasjid karena terbatasnya waktu akibat perjalanan jauh

"Untuk mencapai kampung ini, harus dengan berjalan kaki melewati pematang tambak, dan butuh waktu 2 jam berjalan untuk sampai keakses jalan kelurahan Talaka, Cara lainnya, dengan naik perahu yang hanya butuh waktu 25 menit dengan melalui Sungai Limbangan," Keluhnya

Tidak hanya itu, air bersih juga sangat sulit diperoleh. Mereka harus membeli air bersih tiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tiap hari harus membeli air dengan harga Rp1.000 per jeriken.

“Harapan kami hanya air hujan saja. Kalau musim kemarau, setiap hari kami pagi-pagi membeli air di kampung seberang. Tiap hari kebutuhan air itu samlai 10 jeriken yang kami gunakan,” bebernya.

Listrik pun seperti itu, mereka mengandalkan genset untuk penerangan. Itupun hanya bisa dari pukul enam sore hingga pukul 10 malam.

“Sulitnya juga listrik kita pakai genset. Itu pun kami mampu hanya satu liter saja tiap hari,” ungkapnya.

Kondisi paling parah saat datang kemarau panjang, seperti saat ini. Air tambak yang ada depan rumah-rumah panggung juga sudah mengering. Bersisa tanah tambak saja. Tak ada ikan ataupun air lagi dalam tambak tersebut. Kekeringan sangat dirasakan warga di pesisir ini.

Senada dengan itu, Firman warga lain di kampung tersebut mengaku hampir semua fasilitas umum tidak ada di kampung tersebut. Mulai dari kamar mandi, air, masjid, sekolah, pustu hingga pasar. Tidak mengherankan jika anak-anak di kampung tersebut semangatnya untuk bersekolah kurang.

“Semua fasilitas tidak tersedia. Harusnya pemerintah bisa memperhatikan kami. Setidaknya kebutuhan dasar manusia seperti masjid, Sekolah, jalan, listrik, Fasilitas kesehatan dan Air bersih menjadi prioritas pertama,” pungkasnya.

(ADM-KP)

Posting Komentar untuk "Miris, 157 jiwa di Kampung Bohe Marang Tak Punya Masjid dan Fasum Lainnya"