IKLAN

Sosok Rahmat Semasa Hidup Dimata Keluarga, Sebelum Kerangkanya Ditemukan Warga

KORANPANGKEP.CO.ID - Tim gabungan dari DVI Biddokes Polda Sulsel yang bekerjasama dengan Residen (PPDS Forensik FK-Unhas) dan dokter muda FK-Unhas, FK-Unismuh serta FK-UMI yang melakukan pemeriksaan selama kurang lebih dua bulan di ruang SCI Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, berhasil mengungkap dan mengidentifikasi misteri penemuan mayat yang hanya tinggal tulang di Kampung Maccini Oto, Kelurahan Bonto Perak Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulsel

Dari hasil DNA yang dilakukan melalui pengumpulan ukuran dari dua tulang yakin tulang femur dan tulang Tibia, yang diperkirakan tingginya 153 cm dan dicocokkan dengan DNA keluarganya, tidak terbantahkan lagi secara genetik, bahwa sampel kerangka teridentifikasi sebagai Rahmat anak biologis dari Mustafa Bin Sabe dan St Mina H Duri

Dari penuturan Ayah korban, Mustafa (70) didampingi saudaranya Haji Abbas (60) dan kerabat lainnya yang turut hadir dalam press release Biddokkes Polda Sulsel mengemukakan bahwa rahmat adalah anak bungsunya dari 4 bersaudara.

Semasa hidupnya Rahmat dikenal sebagai anak penurut kepada orang tuanya serta rajin menunaikan ibadah shalat lima waktu di masjid termasuk shalat subuh alamarhumpun tak mau ketinggalan shalat berjamaah di Masjid.

Sebagaimana biasanya sepulang shalat subuh Rahmat biasanya melakukan olahraga jalan-jalan subuh, sebelum akhirnya pulang kerumah, namun pada tanggal 9 Januari 2018 lalu Rahmat tak pulang kerumahnya dan dinyatakan hilang hingga pada akhirnya kerangkanya ditemukan oleh salah seorang sopir mobil yang singgah buang air kecil disemak belukar di pinggir jalan poros makassar Pangkep  kampung Maccini Oto.

"Selama ini, Rahmat aktif sebagai anak remaja masjid. Dan dia juga merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Dia anak remaja mesjid, sehari-hari memang beraktivitas di Masjid dan meninggalkan rumah dengan pakaian muslim. Ia hilang sejak Januari 2018, dan 10 bulan kemudian baru ditemukan kerangkanya atau sudah tinggal tulang,” bebernya, saat di temui di ruang Biddokkes Polda Sulsel.

Sementara itu, Haji Abbas Hasan, om korban membeberkan bahwa berdasarkan keyakinan dan firasat keluarganya, ia menyakini bahwa keponakannya (Rahmat) tersebut merupakan korban tabrak lari pada Januari 2018 lalu. Dan waktu itu, korban ditabrak lalu terlempar ke rawa-rawa, yang jaraknya tidak jauh dari jalan poros.

“Kemungkinan korban (Rahmat) ditabrak mobil, sesuai dengan fakta yang ditemukan pada tengkorak kepalanya. Saat kejadian itu, korban habis sholat subuh, dan selamanya habis sholat subuh biasanya jalan-jalan, Saya yakin itu kecelakaan karena bersamaan kejadian Petepete (angkot) terguling di sekitar lokasi itu dan mati di tempat saat itu supirnya" Pungkasnya.

Ketua tim Forensek Biddokkes Polda Sulsel dr Deni menyebutkan, untuk penyebab kematian sendiri masih didalami oleh penyidik.

"Ketika kita sudah identifikasi ini, mungkin kita akan koordinasi dengan penyidik dari Polres Pangkep, dan mereka akan dalami kasusnya. Kalau Penyebab kematian susah untuk kita temukan karena sudah berbentuk kerangka," jelasnya.

Diketahui sebelumnya, pertama kali, kerangka korban ditemukan seorang warga yang melintas di Jalan Poros Sultan Hasanuddin, Rabu (14/11/2018) Magrib. Saat itu, seorang supir truk hendak buang air kecil di lokasi kosong yang ditumbuhi semak belukar dan langsung menemukan kerangka korban. Lokasi penemuan tak jauh dari jalan sekitar 3 meter dari bahu jalan utama.

(ADM-KP)

AYO SEBARKAN BERITA INI KE:

Disarankan Untuk Anda:

loading...

0 Response to "Sosok Rahmat Semasa Hidup Dimata Keluarga, Sebelum Kerangkanya Ditemukan Warga "

Posting Komentar