Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bertugas Dipulau Terjauh Pangkep, Polisi Cakep ini Manjat Kelapa Untuk Dapat Signal HP

KORANPANGKEP.CO.ID - Bertugas didaerah terpencil seperti kepulauan terluar Pangkep Desa Balo-Baloang, kecamatan Liukang Tangaya, kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel yang mana pulaunya berbatasan langsung dengan Lombok provinsi NTB, tentulah bukan hal yang mudah dan nyaman.

Pasalnya didaerah tersebut tak seperti suasana yang ada di daratan kota yang mana akses transportasi, komunikasi dan akomodasi yang sangat terbatas, terkadang tingginya gelombang antara tiga hingga empat meter di perairan Selat Makassar. Namun, itu harus mereka lalui demi terlaksananya pemilu 2019 di Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep.

Inilah pengalaman pertama salah seorang Anggota Polres Pangkep yang cakep ini, Bripka Stevy Candra Ponto bersama puluhan petugas lainnya untuk mengamankan jalannya pemilu 2019 di kecamatan terjauh Pangkep yang wilayahnya sudah berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan harus ditempuh puluhan jam untuk sampai ditempat tersebut .

Stevy berangkat dengan menumpang kapal motor kayu yang telah disewa KPU Pangkep untuk memberangkatkan petugas pengamanan beserta logistik. Ia tiba sembilan hari sebelum pelaksanaan pemilu. Kotak suara ia kawal ketat meski harus menantang ganasnya ombak laut sulawesi di tiga TPS yang ada dipulau itu.

“Pengalaman pertama bertugas di pulau terluar. Medannya cukup berat, sebab saat ini sudah peralihan musim. Jadi kadang kita di laut lepas dapat gelombang sampai tiga meter, disertai hujan dan angin kencang,” ucapnya, kemarin.

Sehinnga Tidur pun hanya sekadarnya saja saat berada di atas kapal yang ditumpanginya. Ia jaga kotak suara jangan sampai terkena air laut saat ombak meninggi tiba-tiba.

Sesampainya di pulau Balo-baloan ternyata stevi belum bisa bernafas legah karena selama disana Ia kerap menginap di kantor desa setempat yang merupakan lokasi penyimpanan logistik, sebelum dan setelah pemilu. Hingga akhirnya diangkut lagi ke ibu kota Pangkep.

Bukan hanya itu sulitnya telekomunikasi didaerah tersebut membuatnya kesulitan melakukan pelaporan rutin perkembangan pemilu ke Mako Polres Pangkep. Dan akhirnya ia punharus memanjat pohon kelapa yang tingginya 8 meter hanya untuk mendapat Jaringan telekomunikasi itu pun sangat terbatas.

“Harus manjat pohon kelapa untuk dapat jaringan telepon seluler. Itu pun belum tentu terhubung. Butuh perjuangan untuk dapat tembus itu telpon ke darat. Kita sudah panjat pohon. Tetapi untung kalau jaringan lagi bagus. Tetapi kalau tidak, kita turun lagi dari pohon,” jelasnya, lalu tertawa.

Stevy sangat merasakan betapa tertinggalnya masyarakat pulau terluar yang tidak dapat memantau perkembangan informasi saat ini. Tidak seperti para petugas yang ada di daratan yang bisa setiap saat komunikasi dengan penyelenggara dan pengamanan lain. Bagi mereka yang bertugas di pulau terluar, butuh perjuangan agar dapat terhubung ke ibu kota.

“Tidak ada alat komunikasi lain. Jadi warga di sana memang hanya berharap jaringan telepon itu saat memanjat pohon kelapa atau di tempat yang lebih tinggi lagi. Harus hati-hati juga saat dapat jaringan. Karena kalau goyang sedikit signal langsung hilang lagi,” katanya.

Tidak hanya itu, untuk memantau penyelenggaraan pemilu di TPS lain, Stevy harus berkeliling pulau. Menumpang perahu milik nelayan yang melintas. Tetapi, tetap saja harus disesuaikan dengan kondisi cuaca.

Di pulau itu, daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 750 orang. Di sana, mereka terisolasi dalam hal komunikasi antarpetugas. Beruntung, di pulau tempatnya bertugas, kerap muncul jaringan saat memanjat pohon.

“Laporan untuk tiap anggota lintas pulau, tidak bisa terhubung. Tidak ada jaringan di pulau lain. Jadi nanti pada saat bertemu, baru kita laporkan perkembangan di masing-masing pulau tempat tugas. Ada juga alat komunikasi di kantor desa tetapi terbatas,” jelasnya.

Baginya pengamanan di pulau terluar memberikan kesan tersendiri. Termasuk minimnya air bersih yang tersedia. Begitu juga listrik yang masih terbatas. Kebutuhan pangan pun mengkhawatirkan.

“Kebutuhan pangan terbatas. Tidak ada orang bercocok tanam. Buah yang ada di pulau tempat saya bertugas hanya kelapa dan jambu saja. Beras pun terbatas,” ungkapnya.

Beruntung Stevy tetap sehat hingga kembali ke daratan. Tidak tumbang seperti kebanyakan petugas lain. Padahal, dia sempat khawatir terkena malaria.

“Di sana banyak nyamuk. Makanya itu yang kami jaga. Jangan sampai terkena penyakit malaria,” katanya.

Saat ini, Stevy dan rekan-rekannya sudah berada di Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkep. Kapal yang ditumpanginya bersandar di Pelabuhan Paotere, Minggu dini hari, 28 April. Kini ia kembali bertugas seperti biasanya di Satuan Intelkam Polres Pangkep.

(ADM-KP)

Post a Comment for "Bertugas Dipulau Terjauh Pangkep, Polisi Cakep ini Manjat Kelapa Untuk Dapat Signal HP"