IKLAN

Diduga Terlambat Ditangani Dokter Spesialis Bedah RSUD Pangkep, Ibu dan Bayinya Meninggal

KORANPANGKEP.CO.ID - Dian Kurnia Yun Artanti salah seorang Pegawai Pemerintah kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang tengah hamil 9 bulan dikabarkan meninggal dunia saat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSU Pangkep, diduga karena terlambat ditangani oleh Dokter Specialis Bedah saat akan dioperasi sesar untuk menyelamatkan ibu dan anaknya, Kamis (21/3/2019).

Menurut salah seorang keluarga almarhum dian yang bernama Ihsan Razak, saat kondisi Dian kritis dan sudah siap berada diruang bedah untuk dioperasi sesar, dokter spesialis bedah justru belum standby berada diruang operasi dan masih dalam perjalanan dari kota Makassar ke kabupaten Pangkep yang jaraknya kurang lebih 60 KM dari RSUD Pangkep.

Padahal sebelumnya pihak rumah sakit sendiri yang mengabarkan kepada suami pasien bahwa Dian akan segera dibedah dan harus segera dibelikan pisau cukur, namun kenyataannya baik dokter spesialis bedah maupun peralatan bedah belum siap diruang ICU RSUD Pangkep

"Karena akan segera dilakukan operasi jadi harus secepatnya disediakan." ungkap Ihsan menirukan perkataan perawat saat itu.

Akibatnya Almarhumah Dian hanya terbaring di ruang ICU menunggu kehadiran dokter spesialis bedah tersebut tanpa ada tindakan medis dokter saat pasien dalam keadaan kritis dalam ruangan bedah, hingga akhirnya Dian dan Bayinya dinyatakan meninggal dunia diruang operasi tersebut.

"Saat masa kritis hingga almarhumah dinyatakan meninggal dunia, belum ada dokter spesialis yang berada di ruang operasi saat itu. Kata perawat, dokter yang bertugas melakukan operasi masih dalam perjalanan menuju ke Pangkep."Tukas Ihsan

Kejadian berawal saat pada Minggu 17 Maret 2019, pukul 17.00 Wita, almarhumah Dian mengalami sesak napas karena kembung serta merasa sakit apabila perutnya disentuh. Suami almarhumah Dian pun menelpon ambulans 911 Dinas Kesehatan kabupaten Pangkep, lalu dijemput dan dibawa menuju RSUD Pangkep.

Setiba di IGD RSUD Pangkep, menurut Ihsan perawat menangani sambil menanyakan pengurusan administrasi KTP, KK dan Kartu BPJS almarhumah. Keluarga juga memberikan hasil pemeriksaan rutin almarhumah di RS Ibu dan Anak Ananda, sesuai pemeriksaan Rumah Sakit Ibu dan Anak di Makassar, Dian didiagnosa mengalami plasenta previa yaitu sebagian atau seluruh plasenta menutupi jalan lahir bayi. Sehingga kemungkinan akan dilakukan operasi sesar

Almarhumah kemudian ditangani dengan diinfus dan oksigen. Berdasarkan pemeriksaan, almarhumah sempat diberikan obat sesak napas.

"Saat itu almarhumah sempat bertanya ke perawat obat apa yang mau disuntikkan ke tubuhnya, sedangkan almarhumah tidak ada riwayat asma,Kata dokter jaga obat itu untuk mengurangi sesak napas" Kata Ihsan

Usai diberi penanganan medis tersebut kondisi almarhumah terjadi penurunan tekanan darah HB turun, kakak almarhumah akhirnya ke Makassar untuk mencari darah ke Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) di Makassar.

Pukul 01.00 Wita, Ihsan bersama pihak keluarga tiba di RSUD Pangkep dan almarhumah saat itu sudah dipindahkan ke ruang ICU. Selanjutnya pukul 03.00 Wita, pasien mendapatkan transfusi darah.

"Saat itu almarhumah terlihat sudah agak baikan dari sebelumnya dan pukul 03.40 Wita, kami pulang ke rumah," ujar Ihsan.

Esok harinya, pukul 07.21 Wita, suami almarhumah memberikan kabar jika almarhumah Dian akan dioperasi.

"Saya menuju RSUD saat itu, dan pada pukul 07.29 Wita, suaminya menelpon mengabarkan almarhumah pingsan," kata Ihsan.

Ihsan menceritakan setiba di RSUD, sudah banyak perawat yang menangani almarhumah, ada yang memeriksa detak jantung bayi dengan alat pendeteksi jantung.

Ada juga yang memompa oksigen, dan ada juga yang menyuntik cairan ke selang infus almarhumah sambil menerima perintah lewat telepon genggam.

"Entah siapa yang menelpon, dokter kandungan atau siapa, saya kurang paham," keluh Ihsan.

Ihsan menjelaskan, dirinya bingung di saat kondisi kritis malah ada perawat yang meminta untuk membelikan pisau cukur.

Atas kejadian tersebut pihak keluarga Pasien pun berencana akan menuntut pihak rumah sakit sebab keluarga pasien menduga penanganan kasus yang dialami almarhumah tidak sesuai standar prosedur operasional.

"Pada saat di IGD perawat dan dokter jaga tidak melakukan tindakan medis memadai terhadap pasien, misalnya dengan kasus plasenta previa," katanya.

Menurut Ihsan, tidak siapnya peralatan yang ingin dipakai di ruangan ICU hingga hal tersebut memperlambat proses pertolongan.

Ihsan pun menambahkan, sesuai sesuai Pasal 51 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004, bahwa dokter mempunyai kewajiban merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian/keunggulan yang lebih apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.

"Saya juga menilai sesuai Pasal 46 Undang-Undang No 44 tahun 2009, tentang Rumah Sakit menyatakan kalau RS bertanggungjawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenanga kesehatan di rumah sakit," jelasnya.

Sementar itu Direktur RSUD Pangkep, dr Annas Ahmad yang dikonfimasi awak media, menuturkan, mempersilahkan keluarga pasien mengajukan komplain bila ada hal yang kurang berkenan atas pelayanan di Rumah Sakit yang dipimpinnya.

"Iya, itu adalah hak seorang pasien menyampaikan ke pihak managemen RSUD Pangkep. termasuk jika ada yang menganggap terjadi kesalahan, maka setiap pasien berhak atas informasi pelayanan sebagai hak dan keawajiban kami untuk menjawabnya," kata dr Annas.

(ADM-KP)





AYO SEBARKAN BERITA INI KE:

Disarankan Untuk Anda:

loading...

0 Response to "Diduga Terlambat Ditangani Dokter Spesialis Bedah RSUD Pangkep, Ibu dan Bayinya Meninggal"

Posting Komentar