Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

30 Emak-Emak Pengrajin Tusuk Sate Di Kalabbirang Minta Pemberdayaan Pemerintah

KORANPANGKEP.CO.ID - Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata sate? Daging yang dipotong kecil-kecil, ditusuk dan dibakar di atas bara api, dilumeri dengan saus kacang yang lezat, inilah kuliner khas Indonesia yang melegenda.

Namun ada yang harus digaris bawahi dari penamaan sate itu sendiri, tidak dikatakan sate jika tidak ditusuk, dari situlah potensi ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Palappasang, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Minasatene, Kabupate Pangkajene dan kepulauan (Pangkep) Sulsel mencoba mamanfaatkan potensi daerahnya yang mempunyai pohon bambu yang melimpah untuk dijadikannya usaha tusuk sate dan tusuk bakso

Meski harga perikatnya sangat minim hanya Rp.3 ribu per ikat namun Masyarakat kampung Patallasang, Kalabbirang ini antusias menangkap potensi penghasilan tersebut sebagai pekerjaan para ibu ibu yang sebelumnya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja yang mulanya hanya satu orang saja kemudian berkembang kebeberapa tetangga yang didominasi oleh kaum perempuan.

Menurut pengakuan Najamuddin salah seorang warga pengrajin tusuk sate dan juga berprofesi sebagai sabegai Satpam disalah satu perusahaan di Pangkep saat ini setidaknya ada sekitar 30 rumah tangga orang pengrajin tusuk sate dan bakso di kampungnya di antaranya juga sebagai pengepul hasil kerajinan tersebut.

"Awalnya seorang penjual bakso memesan kepada saya beberapa ikat saja, yang kebetulan banyak pohon bambu di kampung, kemudian permintaan itu meningkat dari pedagang bakso dan sate di Pangkajene, dari situlah istri saya mengajak para ibu-ibu untuk ikut bergabung membuat tusuk sate dirumah masing masing lalu dikumpul dirumah kemudian akhirnya dijual ke pasar pangkajene dengan harga Rp.4 Ribu per ikat." Terangnya

Potensi penghasilannya pun lumayan menggiurkan untuk tambahan pemasukan. Saat ini menurut Najamuddin ke 30 ibu-ibu penrajin tusuk sate dan bakso tersebut tiap harinya menyuplai tusuk sate 10 ikat per rumah tangga atau sekitar 300 ikat perhari yang dihasilkan sehingga para ibu ibu tersebut dapat mengantongi uang belanja membantu suaminya sekitar Rp.900 ribu perbulan 

Najamuddin mengatakan bahwa sampai saat ini Pemerintah belum memberikan pemberdayaan peningkatan kualitas kepada pengrajin tusuk sate ini. ia menyebutkan punya teman dari Malang, dia bisa sampai punya pelanggan dari kalimantan karena kualitasnya yang bagus setelah mendapatkan pemberdayaan dari Pemerintah Daerahnya

“Untuk saya pribadi, memang penjualan cenderung tidak ada penurunan di Pangkajene, namun tetap untuk meningkatkan kualitas, saya dan juga pengrajin lainnya membutuhkan pemberdayaan dari Pemerintah agar produk kami semakin maksimal dan menaikkan harga jual,” ucap Najamuddin, pengepul dari 30 orang pengrajin tusuk sate ini.

Mengenai pemasaran, Najamuddin berhadap  Pemerintah dapat menjembatani, karena untuk menjangkau pasar yang lebih besar lagi diperlukan beberapa persyaratan yang pengrajin kecil tidak mampu untuk memenuhinya, seperti kekuatan modal yang besar, badan hukum usaha, sehingga jika Pemerintah menampung dan memberikan jalan pemasaran, itu akan meringankan masyarakat untuk menjangkau pasar yang lebih besar lagi.

Baik Najamuddin maupun pengrajin lainnya mengharapkan bahwa Pemerintah kabupaten Pangkep dan perusahaan PT Semen Tonasa dapat memberikan bantuan berupa mesin pembuatan tusuk sate kepada kelompok pembuat tusuk sate dikampungnya


(ADM-KP)



Post a Comment for "30 Emak-Emak Pengrajin Tusuk Sate Di Kalabbirang Minta Pemberdayaan Pemerintah"