Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pangkep Status Waspada DBD, Dinkes Provinsi Perintahkan RSUD Tidak Tolak Pasien

KORANPANGKEP.CO.ID - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mencatat, jumlah kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah sulsel sejak kasus pertama 22 hingga 31 januari 2019 mengalami peningkatan dengan jumlah kasus 683 orang, 323 suspek dan 10 orang meninggal dunia.

Pelaksa tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sulsel dr. Baktiar baso mengatakan, Daerah tertinggi kasus DBD berada di Kabupaten Pangkep dan saat ini dalam status waspada demam berdarah (DBD) menyusul adanya peningkatan kasus penyakit tersebut yang hingga akhir Januari 2019 telah mencapai ratusan orang terkena penyakit DBD serta tiga orang meninggal dunia.

"Daerah kasus tertinggi di Pangkep dan setiap tahun memang daerah pangkep selalu tertinggi kasus DBD karena faktor lingkungan dan peningkatan jumlah penduduk" Jelas, Kadinkes Sulsel, dr. Baktiar

Angka jumlah penderita sejak awal Januari hingga awal Februari ini terus naik. Hal ini diluar perkiraan Dinkes Provinsi Sulsel yang memperkirakan ledakan penyakit DBD pada bulan Maret mendatang.

"Ini lebih cepat dari perkiraan. Sekarang baru Januari dan angkanya terua naik dan ini berarti masih ada dua bulan sampai Maret untuk waspada," kata Bachtiar.

Dinkes Sulsel juga telah memerintahkan seluruh Rumah Sakit untuk memprioritaskan penanganan DBD bagi masyarakat tersuspek dan positif terkena DBD sebab menyangkut keselamatan nyawa manusia.

Ia juga menegaskan agar seluruh rumah sakit di Sulsel agar tak menolak pasien DBD dengan alasan apapun.

"Rumah sakit harus melayani pasien DBD tidak boleh menolak, jangan tanya dulu administrasinya baru ditangani Kami akan sidak dan berikan sanksi kepada Rumah sakit dan puskemas ketika menolak pasien terkena DBD" Tegasnya.

Baktiar menyebutkan, Pemprov Sulsel juga telah membentuk Tim Gerak Cepat (TGC), tim ini akan disiagakan 1x24 jam ketika Pemerintah daerah Kabupaten meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi baik penanganan maupun suplai kebutuhan medis, karena saat ini penanganan masih berada di tingkat daerah.

Baktiar Baso sangat berharap peran aktif kepala daerah di sulsel untuk mengeluarkan surat edaran penerapan program kementerian kesehatan satu rumah satu jumantik atau setiap rumah memiliki seorang pemantau jentik serta program penanaman tanaman anti nyamuk karena program ini sangat efektif mencegah kasus DBD. Pemerintah Daerah dari 24 kabupaten/kota yang telah menerapkan program ini BARU  pemkab luwu utara,maros dan pinrang.

Ia mengatakan, dari posko DBD Sulsel sendiri, angka penderita DBD se-Sulsel mencapai 658 kasus dengan kasus meninggal dunia sebanyak delapan orang.

Untuk Pangkep yang penderita DBD mencapai ratusan dengan kematian tiga orang. Bahtiar mengatakan, belum bisa ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sebab, penetapan KLB bisa dilakukan jika angka kematian karena DBD mencapai 49 dari seratus ribu penduduk serta jumlah kejadiannya lebihbbesar dua kali lioat dari tahun lalu.

Sementara itu di Kadinkes Pangkep, dr Indriaty Latief menyampaikan, hingga saat ini data suspect DBD di Pangkep mencapai 195 orang, positif DBD 157 orang dan kematian akibat DBD tiga orang.

(ADM-KP)

Post a Comment for "Pangkep Status Waspada DBD, Dinkes Provinsi Perintahkan RSUD Tidak Tolak Pasien"