Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bawa Sangkur Kesekolah, Satriani Guru Honorer Pangkep Malah Diberi Penghargaan

KORANPANGKEP.CO.ID - Nama Satriani (33 Tahun) Seorang guru Pendidikan Agama Islam Honorer mendadak terkenal belakangan ini dan menjadi perbincangan di media Massa padahal selama ini ia mengajar di daerah pedalaman terpencil di kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel yang jauh dari akses telekomunikasi dan akses jalan kendaraan dan bahkan belum ada aliran listrik karena terletak diatas pegunungan dan melewati hutan belantara untuk dapat mengakses tempat mengajarnya.

Nama Satriani mulai viral diperbincangkan saat dirinya menjadi salah seorang dari lima guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diberi penghargaan oleh Kementerian Agama melalui Dirjen Pendidikan Fama Islam atas dedikasinya mencerdaskan bangsa.

Satriani yang merupakan guru honorer di SD 44 Bakka, Kabupaten Pangkep, dianugrahi penghargaan sebagai guru berdedikasi, karena selama bertahun-tahun rela mengajar siswa di pelosok Kabupaten Pangkep.

SD 44 Bakka terletak di Dusun Bakka Desa Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Untuk mengajar di sekolah tersebut, setiap hari Satriani menempuh perjalanan 15 kilometer dari rumahnya.

Setiap hari, selama 10 tahun terakhir delapan kilometer pertama, ibu dua anak ini menggunakan sepeda motor, namun, tujuh kilometer selanjutnya, ia harus berjalan kaki lantaran akses menuju ke sekolah merupakan hutan dan gunung yang hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.

Jalanan yang dilaluinya pun dikelilingi gunung kapur. Bebatuan besar di kiri dan kanan. Di bagian tepi, jurang terjal menganga. Terpeleset sedikit, bisa berujung maut. Begitulah akses ke SDN 44 Bakka, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep, Sulawesi Selatan. Medan ekstrem ke kawasan yang terisolasi itu pula yang harus dilalui Satriani, guru di sekolah tersebut.


Setiap hari, selama 10 tahun terakhir, Satriani menyusuri jalan pendakian sepanjang 3 kilometer, lalu jalan turunan sepanjang 4 kilometer. Pergi pulang, total dia harus berjalan kaki sepanjang 14 kilometer.

Perjuangannya dimulai setelah salat Subuh berjamaah dengan suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Satriani mengendarai sepeda motor ke permukiman warga di Kelurahan Bontoa. Jaraknya 8 kilometer.

”Dari rumah, saya harus naik motor dulu sampai ke titik terakhir jalan yang bisa dilalui kendaraan, Jadi, memang perjalanan saya tiap hari cukup jauh. Sekitar 30 kilometer tiap hari.” urainya kepada awak media.

Ibu dua anak yang masih berstatus guru honorer. Kerap dia jumpai binatang liar di perjalanan. Saat berada di tengah hutan. Mulai ular aneka ukuran dan jenis hingga babi hutan. Kendati begitu, dia bertahan. Tetap mengabdi di tengah kondisi berat.

Ia mengungkapkan, pernah suatu ketika dalam perjalanan ke sekolah, Ia dikagetkan dengan ular yang cukup besar di hutan itu. Tak hanya sekali, beberapa kali Satriani harus berpapasan dengan ular dan hewan-hewan buas lainnya. "Makanya selalu bawa parang ke sekolah," kata Satriani sambil tertawa.

Alasan itulah yang membuat dia selalu sedia sangkur di ransel yang dibawanya tiap hari. Senjata tajam tersebut digunakan sebagai alat berjaga-jaga saja.

"Apalagi kalau saya sendirian jalan pulang. Biasa sudah, malam baru sampai di rumah dan keluar dari rumah masih subuh," kata guru pendidikan agama Islam itu.

Jarak yang sangat jauh dari rumah, membuat Satriani kadang memutuskan untuk menginap di Dusun Bakka. Apalagi jika menghadapi nusim hujan, dimana jalan yang semakin sulit, ia memilih menumpang di rumah warga.

"Kadang saya menginap di rumah penduduk. Musim hujan biasanya jalanan licin, dan semakin banyak ular," tandasnya.

Tawaran untuk pindah lokasi mengajar memang kerap datang kepadanya. Sekerap itu pula dia menolak. Bagi dia, murid-murid dan masyarakat Bakka sudah seperti keluarga sendiri. Dia betah mengajar di atas perbukitan itu.


Di SDN 44 Bakka, dia mengajar 26 murid. Dari kelas I hingga kelas VI. Memang tak banyak murid di sekolah itu.

Di kelas I, hanya ada enam murid. Kelas II punya tiga murid. Di kelas III, ada dua murid. Kelas IV diisi empat murid. Kelas V memiliki delapan murid. Lalu, di kelas VI ada delapan murid.

Itu pun, hanya ada tiga ruang kelas. Kelas I digabung dengan kelas II, kelas III digabung dengan kelas IV, dan kelas V digabung dengan kelas VI. Tidak ada aliran listrik di kampung tersebut. Kondisi itu cukup menyulitkan murid ketika ada buku yang hendak difotokopi.

”Sama sekali tidak ada listrik. Jaringan seluler juga tidak ada, Jadi kalau ada materi pelajaran yang akan difotokopi, saya harus mempersiapkannya lebih awal. Supaya dapat difotokopi di kota,” urai Satriani.

Untuk semua perjuangan itu, insentif yang dia terima sangatlah tak sepadan. Biaya transportasi saja yang menempuh jarak begitu jauh tidak bisa tertutupi dengan insentif yang dia terima per triwulan melalui pos bantuan operasional sekolah (BOS). Namun, Satriani memakluminya.

”Pemberian insentif honorer berasal dari dana BOS. Sementara jumlah siswa yang sedikit juga menjadi tolok ukur dana BOS,” katanya.

Untuk menghemat dan menutupi pengeluaran, setiap menjalani rutinitas mengajar di sekolah tersebut, dia kerap membawa bekal. Antara lain, mi instan dan telur.

”Banyak juga warga yang mengajak untuk makan. Jadi, kami biasa ke rumahnya untuk numpang makan siang,” katanya.

Sebenarnya Awal mula Satriani menjadi guru honorer sejak 2006, dia mengajar di Kota Pangkep dengan jam mengajar yang sangat minim. Pada 2014, Ia mendengar kabar, sebuah sekolah di pedalaman Pangkep membutuhkan tenaga guru PAI.

Satriani pun tertarik mengajar di sekolah tersebut, demi menambah jam mengajarnya dan juga mentransfer pengetahuannya ke siswa. Ia bahkan rela meninggalkan tempat mengajarnya sebelumya, yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.

Dibantu suaminya, ia kemudian menghadap ke kepala sekolah dan bermohon untuk pindah mengajar. Meskipun waktu menghadap, orang-orang tak percaya jika Satriani ingin benar-benar pindah mengajar di pelosok.

"Waktu saya menghadap itu, mereka sempat tidak percaya. Katanya bagaiman mungkin saya yang seorang perempuan bisa mengajar di SD Bakka yang sulit diakses, perjalanan ke sana saja sangat sulit katanya. Apalagi waktu itu konfisi fisik saya masih sangat kurus," ujar Satriani yang ditemui di ruangan Kabid PAI, Kemenag Sulsel

Diketahui sebelum hangat diperbincangkan di media Massa Satriani memang diundang khusus ke Kemanag Sulsel untuk menceritakan pengalamannya, dimana sehari sebelumnya Ia baru pulang dari Jakarta menerima penghargaan guru berdedikasi, diadampingi Kabid PAI Kemenag Sulsel, beberapa waktu lalu

(ADM-KP)


Posting Komentar untuk "Bawa Sangkur Kesekolah, Satriani Guru Honorer Pangkep Malah Diberi Penghargaan"