Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehilangan Tangan dan Istri Di Makassar, Enho Dapat Jatidiri dan Cinta Sejati Di Pangkep

Kisah hidup Puji Hartanto atau lebih akrab disapa Enho dikalangan masyarakat Pangkep patut kita teladani dimana saat keterpurukannya akibat kehilangan sebelah tangannya dan istrinya tercintah tak mematahkannya untuk terus berkarya dan bangkit melawan keterpurukannya tersebut.

Dulu enho salah satu pria yang memiliki anggota tubuh yang lengkap dengan punya keahlian dibidang musik yang cukup mahir memainkan gitarnya dan mempunyai suara yang terbilang cukup bagus sehinnga hal itulah yang memikat istrinya yang pertama untuk menjadi pendamping hidupnya waktu itu.

Enho lahir di Makassar, 6 Januari 1983 Anak dari Slamet Riyanto ini setelah hijrah dan menetap di pangkep beralamat di Bungoro dan bekerja sebagai pengamen di rumah makan di kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel.

Keterpurukan Enho berawal ketika dirinya mengalami musibah kesetrum listrik yang mengakibatkan tangan kananya hangus dan harus teramputasi tahun 2002 lalu tentu saja saat itu sempat merasa putus asa dan kecewa karena keterbatasan fisiknya yang tidak sempurna lagi akan menghalanginya untuk memetik gitarnya untuk berkarya seperti dulu lagi.

"Saya kalut, batin saya menjerit atas musibah yang saya alami. Betul-betul saya putus asa waktu itu. Rasanya tidak sanggup lagi menjalani hidup saat itu," ungkapnya, Kamis (6/12/2018).

Keterpurukan yang dialami Eno saat itu semakin bertambah, saat istri yang dicintainya tersebut pergi meninggalkannya karena tak sanggup hidup dengan kondisi enho yang tangannya sudah tidak sempurna lagi. dan pada akhirnya Dia pun bercerai dengan istrinya.Tentu bisa kita bayangkan bagaimana terpuruknya perasaan enho saat itu, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

"Saat itu istri saya patah semangat, bahkan setelah 2 bulan keluar dari rumah sakit dia tinggalkan saya. Saya ikhlas dan menerima semuanya meski batin saya benar-benar sakit tapi saya yakin Allah punya rencana lain untuk saya" katanya lirih.

hanya beberapa waktu terpuruk enho pun berfikir untuk bangkit dari keterpurukannya dan tetap mengasah kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi, dan mencari cara agar ia bisa memetik gitarnya lagi seperti dulu. Diapun bercerai dan Eno berusaha move on dari segala masalah yang dihadapinya dan hijrah ke Pangkep tahun 2004.

"Saya bangkit lagi, keluarga terus memberi dukungan, move on dan berjuang hidup di Pangkep dengan bekerja sebagai pengamen di tempat keramaian dan warung-warung di Pangkep," jelasnya.

Tanpa harus malu dengan keterbatasan fisik, enho terus memainkan gitar dan suaranya dihadapan para pengunjung warung makan yang ada di kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel. ia memetik gitarnya dengan sebua Pick yang sengaja dibuanya dari kayu lalu diikatkan di tangannya yang terputus akibat tersengat tegangan tinggi listrik tersebut untuk memainkan gitar kesayangannya.

Pasca hijrah ke Pangkep kehidupan enho semakin berubah, apalagi enho orangnya supel dan mudah bergaul sehingga dengan mudah mendapatkan teman teman bahkan menemukan cinta sejatinya dan menikah di Pangkep.

Selain bekerja sebagai pengamen di Warung 77 dan Taman Musafir Pangkep. enho juga bergabung di komunitas Jaringan Disabilitas Pangkep (JDP). dan tergabung dalam organisasi Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) Pangkep. tak hanya itu Prestasi enho di bidang musik yakni menjuarai juara 1 Festival Band di Pangkep.

(ADM-KP)

1 komentar untuk "Kehilangan Tangan dan Istri Di Makassar, Enho Dapat Jatidiri dan Cinta Sejati Di Pangkep "