Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEORANG POLISI CIUM KAKI TUKANG BECAK MOTOR (BENTOR) DI PANGKEP

Siswa Diktuk SPN Polda Sulsel bernama Muhammad Aswar yang lahir di Baru-baru Toa, 25 Oktober 1998 anggota Pleton 2-A/I asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan ini mendadak viral di media sosial (facebook, Instagram, dan Washapp) setelah fhotonya pertama kali diunggah di akunt instagram @spnpoldasulsel, Senin (19/11/2018) lalu

Dalam foto yang diunggah di akunt instagram @spnpoldasulsel tersebut nampak seorang Polisi tengah mencium kaki seorang tukang becak motor (Bentor) diatas bentornya yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri bernama SaLamuddin di belakang Rujab Bupati Pangkep

Salamuddin (55 tahun) adalah tukang bentor yang biasa mangkal di tugu Bamburuncing dan sekitar Rujab BUpati Pangkep untuk menunggu penumpang, Profesi tukang bentor sudah ia jalani selama 13 tahun dan juga pernah menjadi tukang becak selama 20 tahun dan sempat menjadi tukang parkir sebelum ia menjalani profesinya sebagai tukang bentor, ia tinggal Kampung Sanrangan, Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene kabupaten Pangkep.  .

Dengan penghasilan yang pas-pasan sebagai tukang bentor, bersama istrinya Mantasia (50) ia berhasil membuktikan dirinya mampu menjadikan anaknya seorang Polisi dengan murni tanpa harus membayar seperti yang biasa orang perbincangkan. Muhammad Aswar berhasil lolos menjadi calon Bintara Polri tahun ajaran 2018 dan kini menjadi siswa Diktuk SPN Batua Polda Sulsel.


Keberhasilan Aswar menjadi siswa Diktuk SPN Batua Polda Sulsel ini tidaklah mudah karena sebelumnya Aswar telah beberapa kali mengikuti pendaftaran hingga dinyatakan lulus. Pendaftaran bintara dan tamtama dia jalani, namun tak pernah putus asa dari kegagalannya tersebut.

Karena beberapa kali gagal dan kehabisan biaya memaksa Aswar untuk mencari kerjaan sampingan agar kembali dapat mempunyai dana mengurus berkas. Akhirnya Aswar memilih kerjaan sebagai karyawan toko di minimarket. Setiap harinya, Aswar melayani pembeli di tokonya dan hasil jerih payahnya itu pun di tabung dan sebagian dipakai untuk hidup di Kota Makassar selama pendidikan.

"Tiap pendaftaran saya selalu mendaftar. Mendaftar saja, malah pernah gugur di tes terakhir. Tapi saya tidak menyerah, untuk jadi polisi tidak harus kaya, orang rendahan bisa lulus. Karena seluruh proses pendaftaran netral dan gratis, Saya menjalani tes berbulan-bulan dan akhirnya lolos tanpa membayar sepeser pun. Dan akhirnya bisa mengikuti pendidikan" Ungkap Aswar.

Sementara itu Salamuddin ayah Aswar mengaku gembira dan bangga atas keberhasilan anaknya tersebut menjadi polisi, Dia tak pernah menyangka jika anak bungsunya mampu seperti sekarang ini. Apalagi dia tak pernah tahu menahu cita-cita apa yang diinginkan anaknya.

"Saya tidak menyangka dia bisa lulus, kaget dan terharu. Dari kecil saya tidak tahu apa cita-citanya. Dia juga tidak pernah bilang mau jadi apa, tidak pernah bilang mau jadi polisi. Ini karena doa tidak pernah lepas dan memang saya meminta kepada Allah SWT. Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku," ujar Salahuddin.

Salamuddin hanya tahu bagaimana cara untuk mendukung dan membiayai kebutuhan pendidikan anaknya. Dan selalu berpesan agar anaknya belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengangkat derajat keluarga bisa lebih baik dari sebelumnya.

"Saya hanya selalu pesan supaya belajar dengan baik, Tiap-tiap habis pakaian sekolah saya bilang ke dia, baik-baik sekolahnya biar nanti jadi presiden ke sepuluh," kata Salamuddin sambil tersenyum.


Dari pantauan awak media di depan Tugu Bambu Runcing, Selasa (20/11/2018) Aswar sedang berada di bentor ayahnya. nampak aswar dan ayahnya tak kuat menahan air mata harunya tatkala bertemu, Dia memeluk erat bahu ayahnya seakan tak ingin lepas.

Mata Salamuddin kelihatan mulai berkaca-kaca. Nampak jelas bulir air mata tertahan dan bersyukur melihat anaknya sudah berpakaian Siswa Diktuk SPN Polda Sulsel lengkap dihadapannya dengan perjuangannya sendiri.

Nada bicara Salahuddin sedikit parau, sesekali dia menyelipkan bahasa Makassar dan sesekali pula ada logat Pangkep dengan versi Bahasa Indonesia. Disebelahnya Aswar menahan tangis, dia berusaha tersenyum  dengan kuat dan lantang menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

Atas kelulusan anaknya, Salamuddin akan menunaikan nazar untuk berpuasa selama 30 hari. Sementara Aswar anaknya hendak berpuasa selama tujuh hari.

(ADM-KP)

Post a Comment for "SEORANG POLISI CIUM KAKI TUKANG BECAK MOTOR (BENTOR) DI PANGKEP"