Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MIRIS, 10 TAHUN TINGGAL DIKANDANG AYAM, KAKEK INI BUTUH ULURAN TANGAN

Sungguh miris melihat kehidupan kakek Dalle (80 tahun) warga Kampung Pattallassang, Kelurahan Kalabirang, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) diusianya yang sudah renta masih tampak tegar menjalani kehidupannya sehari-hari tinggal di kandang ayam seorang diri. tanpa ada kepedulian dari pemerintah setempat dan perusahaan perusahan tambang yang berdiri megah di sekelilingnya.

Kandang ayam tersebut dijadikan gubuk oleh Dalle sebagai tempat dirinya berteduh. bahkan sudah bertahun-tahun Ia menempati kandang ayam itu, sudah 10 tahun yang luasnya hanya sekitar 3x4 meter. Keadaannya pun terlihat memprihatinkan dan sudah reyot. berlubang dan nyaris roboh. Banyak pula barang-barang rongsokan di gubuk tersebut yang biasa dipakai dalam kehidupannya sehari hari.

Kemiskinan yang menjerat Dalle terpaksa diantara klaim pemerintah kabupaten Pangkep yang sudah keluar daerah kabupaten miskin serta klaim para perusahaan perusahaan tambang disekitarnya yang menyebutkan telah melakukan upaya pemberian CSR bagi rakyat miskin, namun luputnya pandangan pemerintah dan perusahaan tersebut membuatnya harus rela menerima nasib untuk tinggal di kandang Ayam.
Tentu saja kandang ayam merupakan tempat yang jauh dari kata layak untuk dihuni manusia apalagi yang sudah rentah seperti wak Dalle. Mulai dari segi kebersihan, hingga kemampuan bangunan melindungi dirinya yang renta itu dari panas, hujan, serta angin sangatlah memprihatinkan. sementara untuk makan sehari hari Wa Dalle hanya hidup berkebun di pekarangan rumahnya dan terkadang mendapat belas kasih dari tetangga atau warga setempat.

Tajuddin Mustamin salah seorang pemerhati sosial di kabupaten Pangkep sangat menyayangkan kondisi Wak Dalle yang selama ini luput dari perhatian pemerintah dan perusahaan perusahaan tambang megah disekelilingnya, mengingat pemerintah dan perusahaan tersebut punya program bedah rumah justru yang terdekat bisa luput dari perhatian mereka.

"Harusnya Pemerintah dan Perusahaan perusaahan seperti Semen Tonasa dengan CSR nya memprioritaskan warga seperti Wak Dalle, bukan malah memprioritaskan wbedah rumah yang justru masih layak huni hanya karena kedekatan keluarga dengan pengurus CSR dan bantuan Pemerintah" Ungkap Tajuddin dengan wajah miris.

Baik Wak Dalle maupun Tajuddin Mustamin berharap berharap baik dari pemerintah Pangkep maupun perusahaan perusahaan tambang disekelilingnya, mau berbaik hati memperhatikan kehidupan wak Dalle yang sangat memperihatinkan tersebut.

Dari Pantauan awak media tercatat di sekeliling rumah wa Dalle terdapat 2 perusahaan marmer, PKM dan PT semen Tonasa yang merupakan perusahaan semen terbesar di Indonesia Timur.

Sementara dari data yang dihimpun awak media, untuk APBD 2019 mengalami peningkatan dan mencapai Rp 1,45 Triliun, bila dibandingkan tahun anggaran di 2018, hanya sekitar Rp 1,41 Triliun. Untuk belanja di tahun 2018 sebesar Rp 1,42 Triliun, sementara belanja di tahun 2019 mencapai 1,46 Triliun, yang merupakan APBD terbesar kedua di Sulawesi Selatan.

(ADM-KP)

Posting Komentar untuk "MIRIS, 10 TAHUN TINGGAL DIKANDANG AYAM, KAKEK INI BUTUH ULURAN TANGAN"