Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

UAS, DI TANAH JAWA DIUSIR DI TANAH BUGIS DISAMBUT

Oleh: Al-Bahri

Di tanah Jawa UAS diusir, di tanah Bugis UAS diterima dengan aman dan dicintai.
Agenda kemarin dimulai di Pesantren Shohwatul Is'ad Pangkep, memberi motivasi kepada santri dan dilanjutkan malamnya di alun-alun citra Mas Pangkep, dan Subuhnya di Masjid Ikhtiar perumahan Dosen Kampus Unhas, pesertanya luarbiasa antusias masyarakat kepada UAS beliau diterima dan dicintai. tidak seperti di tanah Jawa dengan alasan logo dan tuduhan HTI, padahal beliau adalah, penganjur untuk memilih ketika ada pemilihan sangat jauh dari panggang dengan ideologi HTI yang mengharamkan demokrasi.

Mengapa UAS dibenci dan diusir? Simak tulisan ini sampai selesai.

Kata-katanya indah didengar, rangkaian kalimatnya tersusun rapi seperti bersajak dan berpantun, disukai banyak orang, ceramah nya tidak membosankan, karena terkadang diselipkan lelucon segar, menandakan beliau orang Melayu Sumatera yang sejak dulu terkenal pintar merangkai kata yang enak didengar.

Dulu Zainuddin MZ digelari sejuta ummat, kini Ustad Somad sejuta view di YouTube, sejuta liker di facebook.
Tetapi mengapa tetap saja beliau terkadang diusir? Bukankah beliau sampaikan pesan-pesan Islam yang banyak pemeluknya di Republik ini.

Apakah Islam dibenci oleh pemeluknya sendiri atau orang yang ingkar kepada Allah?

Dulu Rasulullah sangat dicintai dan dipercaya oleh masyarakat Quraisy yang kafir, nanti mulai dibenci ketika mulai berdakwah tentang kekuasaan dan mengajak orang lain untuk menghamba kepada Allah.
Dibenci ketika kekuasaan  atau pengaruh Quraisy mulai terancam, terutama bisnis buat berhala mulai berkurang.

Pantas jikalau mantan perdana menteri Indonesia Muhammad Natsir pernah katakan:
Ketika Islam bicara tentang politik maka akan dicabut sampai ke akar-akarnya.

Masih terlalu banyak Muslim yang belum move on tentang Islamnya sendiri.
Dianggapnya Islam tidak bicara tentang kekuasaan atau politik, padahal agama ini adalah agama yang sempurna membahas semua aspek kehidupan, persoalan kecil saja dibahas detil apatah lagi persoalan yang mengurus kepentingan umum, seperti politik.

Ketika penceramah hanya mengajak shaleh untuk dirinya sendiri masyarakat, maka itulah yang diharapkan penguasa, tetapi ketika mulai mengajak ummat untuk sadar dan pentingnya kekuasaan di tangan ummat Islam, maka bersiaplah di blacklist oleh panitia Masjid atau penguasa sendiri yang merasa takut diganti, dikiranya kekuasaan itu kekal.

Bukankah Para Nabi yang diutus Allah adalah orang yang diberi kekuasaan, seperti Yusuf penguasa di Mesir nantinya setelah dibuang di Sumur, Raja Daud, Raja Sulaiman yang berkuasa luar biasa sampai binatang, jin, angin dibawah kekuasaannya,


Nabi Muhammad sendiri sebagai kepala Negara di Madinah, sebelumnya 13 Tahun di Makkah hanya sekitaran 200-an orang yang ikut kepada beliau dengan berislam, bandingkan ketika sudah berkuasa, Islam tersebar di seluruh jazirah Arab dan sekitarnya, dan pada Fathul Makkah sekitar 124.000 orang sudah berislam, jauh beda ketika kekuasaan sudah di tangan beliau.

Peristiwa wafatnya Rasulullah juga adalah contoh betapa pentingnya arti kekuasaan, karena para sahabat tidak menguburkan jasad beliau pada hari itu, nanti setelah 4 hari baru dimakamkan beliau. Mengapa terjadi seperti itu padahal beliau sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk bersegera menguburkan jenazah.

Jawabannya karena para sahabat bermusyawarah membicarakan siapa pengganti kepemimpinan Rasulullah setelah kematiannya, nanti setelah sepakat bersama Abu Bakar Ash Siddiq sebagai Presiden/Khalifah pada waktu itu, baru dimakamkan jenazah Rasulullah.
Itu artinya membahas kekuasaan jauh lebih penting dibandingkan memakamkan jasad mulia Rasulullah.

Oleh sebab itulah, UAS di ceramah-ceramahnya sering mengikutkan, arti pentingnya kekuasaan, dan ini dibenci oleh penguasa yang alergi dengan Islam politik,

Dan yang sering diucapkan adalah efektifnya ketika penguasa yang mengajak rakyat untuk sadar kembali kepada Allah. Coba kita bayangkan sabda Rasulullah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan KEKUASAAN yang dimilikinya, maka apabila tidak bisa ubahlah dengan lisannya, maka apabila tidak bisa maka dengan hatinya yang demikian selemah-lemah iman”
(HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry)

Lihatlah efektifnya, Alexis surga dunia ada di lantai 7 kata orang, setiap jelang Ramadhan aktivis Islam aksi agar tidak beroperasi, ribuan orang protes, tetapi hanya dengan sebuah tanda tangan seorang penguasa, tempat itu tidak beroperasi lagi.

Musa sang penakluk tirani, mulai dibenci oleh penguasa Fir'aun kala itu ketika sudah mengajak memobilisasi orang untuk menghamba hanya kepada Allah semata bukan kepada manusia,

Paranoidnya Fir'aun diawali ketika mimpi melihat bayi mengambil mahkotanya, maka lahirlah UU tiran, membunuh semua bayi yang lahir di negerinya.

Maka tidak heran ketika ada penguasa paranoid dengan hastag kata kata, yang awalnya muncul di sosial media, kemudian para pebisnis menganggap itu peluang bisnis karena diganrungi masyarakat, maka di berbagai daerah ditemukan penangkapan yang memakai baju tersebut, padahal hanya kata-kata belaka, bukankah itu kegalauan tingkat dewa.

Ustad Abdul Somad (UAS) yang sangat tren di sosial media, tidak ada rekam jejak memiliki senjata api, tidak pernah berlatih perang, hanya berlatar belakang dosen, alumni timur tengah, penceramah, tetapi tiba-tiba biasa diusir, apakah itu bukan pesanan Penguasa, padahal penguasa jugalah bisa mencegah kekerasan warganya kepada anak negeri ini yang bebas berbicara di alam demokrasi ini.

Mau diusir dan dibenci ajaklah orang lain untuk sadar dan terutama ajaklah orang untuk sadar betapa pentingnya kekuasaan di tangan ummat Islam yang peduli dengan agamanya, itulah sebab utama UAS dibenci dan diusir.

#RuhBaru77
AL-BAHRI

Posting Komentar untuk "UAS, DI TANAH JAWA DIUSIR DI TANAH BUGIS DISAMBUT"