Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MERASA DI FITNAH OLEH KADESNYA CAMAT LIUKANG TUPABIRING ANGKAT BICARA


Menanggapi ramainya pemberitaan di media pertengkaran Camat Liukang Tupabbiring kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan kepala desa mattiro adae di hotel Grand Palace Makassar, H. Paharuddin camat liukang tupabbiring akhirnya angkat bicara karena merasa di fitnah oleh Abd. Rahman kades Mattiro adae, menurutnya apa yang diutarakan Rahman di media tidak sepenuhnya benar dan banyak di bumbuhi cerita bohong.  

Dihadapan awak media Pahar menceritakan kronologis kejadiannya bahwa awal kejadian saat dirinya dan beberapa kades dan lurah pulau hendak menghadiri sosialisasi survei seismik 3D dimakassar dan setiba di hotel dirinya baru bertemu dengan dua orang kades yakni Kahar kades Mattiro Dolangen dan Rahman Kades Mattiro Matae.

Dalam kesempatan itu Pahar ingin langsung menkonfirmasi ke Rahman perihal maksud dan tujuannya melaporkan dirinya ke ketua DPRD bulan April 2018 lalu tentang keberatannya dengan program kecamatan yang sudah disepakati bersama dalam sebuah rapat kepala desa dan lurah sekecamatan Pangkep.

“Harusnya pak desa jika ingin keberatan sejak dulu menolak program tersebut saat dirapatkan masalah program tersebut, bahkan justru Rahmanlah yang paling pertama melaporkan bahwa semua kades telah setuju, dan laporannya sudah dibuat dan dijilid, jadi saya heran kalau ia tiba tiba masuk menghadap pak ketua DPRD melaporkan kalau program tersebut memberatkan para kades.” Ungkapnya (11/6/2018)

Sebelumnya pahar sudah berusahan menemui Rahman baik lewat telpon ataupun langsung kerumahnya namun rahman selalu sembunyi dan menghindar tak mau menemuinya. Hingga akhirnya ketemu di lobi hotel, Pahar pun mengajak kahar menuju ruang lobi hotel membicarakan kenapa rahman memimpin dan menghasut kades lain untuk melaporkan dirinya ke ketua DPRD, Rahman pun menyangkal hingga akhirnya Pahar ingin memanggil kades lainnya yang turut serta untuk diklarifikasi.

Merasa tersudut Rahman pun menprotes dengan nada keras bahwa bukan hanya dirinya yang punya inisiatif melapor tapi kenapa hanya dirinya yang dipanggil. bukan cum saya sendiri pak, Kenapa kades lain tidak dipanggil urai pahar membicarakan kronologinya pada awak media

Diberikan komentar dengan nada tinggi oleh bawahannya, pahar mengaku terpancing dan juga membalasnya dengan nada suara tinggi, sambil menunjuk nunjuk ke arah Rahman hingga pada akhirnya datan kades lain melerainya dan menyuruh mereka masuk ruangan karena acara segera akan dimulai.

Jadi tidak benar saya mengayungkan tinju ke Rahman seperti yang diberitakan media melainkan saya menunjuk nunjuk kearah rahman karena terpancing dengan nada tinggi suara rahman kepada saya dan berkata kaumi yang propokatori temanmu melapor, janganko begitu kedua kalinya” jelas Pahar

Mengenai pemotongan anggaran untuk program kecamatan sesuai yang diungkapkan Rahman di media beberapa hari lalu pahar mengaku di fitnah sebab ia tidak bisa melakukan pemotongan anggaran karena Dana Anggaran Desa tersebut cair langsung di kas daerah bukan kas camat.

Bagamana saya bisa Potong uang pak desa sedangkan pencairannya melalui pak desa sendiri dan bendaharanya desa lewat rekening desa.” pungkasnya.

Pahar pun menolak kalau dirinya dianggap meminta uang Rp.1,5 juta untuk tahun ini kepada kepala desa untuk sewa kantor perwakilan pulau bersama di daratan pangkajene, melainkan cuma Rp.1 juta sebagaimana biaya sewa yang disepakati pak desa dan camat camat sebelum Pahar dengan total sewa rumah di jalan andi caco pangkajene adalah Rp.6,5 juta pertahun dan ke empat desa menyetor 1 juta dan sisanya Rp.2,5 juta ditanggung oleh anggaran kecamatan.

“Saya hanya meneruskan program camat camat yang lalu dan masih menyewa bersama rumah untuk kantor bersama dalam melakukan pelayanan administrasi warga pulau yang mengurus di daratan ibukota pangkep, masing masing desa membayar 1 juta dan sisanya 2,5 juta ditanggung kecamatan.”

Hanya saja kata Pahar kedepannya telah disepakati bersama ingin menambah 1 rumah sewa lagi sebab rumah tipe 45 yang disewa bersama tersebut sudah dianggap sempit apalagi kalau masyarakat yang datan bersaman dari keempat desa tersebut, maka diambillah kesepakatan akan menyewa rumah lagi dengan masing masing desa menyetor Rp.1,5 juta dan Rp.5 juta ditanggung kecamatan  

“Baru rencana mau sewa rumah satu lagi, sesuai kesepakatan rapat dengan pak desa lainnya karena sudah mulai sempit jika ada warga dari keempat desa yang datang bersamaan mengurus di pangkajene, itupun sudah 2 kalimi pencairan pak desa rencana tersebut belum terealisasi sampai sekarang karena belum ada yang bayar sama sekali.” Paparnya.

Pahar juga meminta ada pihak yang bisa memfasilitasi komplontir langsung dengan kades Mattiro Adae dan membicarakan duduk perkara yang sesungguhnya agar tak ada fitnah yang timbul yang dapat merugikan kedua belah pihak.

 (ADM-KP)
 

Posting Komentar untuk "MERASA DI FITNAH OLEH KADESNYA CAMAT LIUKANG TUPABIRING ANGKAT BICARA"