Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAK NUHE NENEK RENTA DAN MISKIN YANG TERLUPAKAN OLEH NEGARA


Ulasan Oleh : Tata' Syahrul Syaf (Pimpred Koran Pangkep)

Di sebuah kebun milik warga di desa Tabo-Tabo kecamatan Bungoro, kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, seorang nenek berusia 70 tahun bertahan hidup hanya dengan makan seadanya, di gubuknyayang sudah reok. Miris, menyedihkan dan berbagai perasaan berkecamuk melihat kondisi mak Nuhe, dalam usianya yang renta, tinggal seorang diri di sebuah gubuk yang hanya berukuran 2 x 2 meter.  dan hanya beratapkan daun nipa serta tidak di terangi oleh cahaya lampu listrik  Walaupun dalam kondisi seperti itu, tak pernah terdengar keluhan dari mak Nuhe.


Nenek Rosniah sebenarnya memiliki sanak keluarga di daerah tersebut, Tapi ia tetap mememang prinsip tidak mau merepotkan orang lain.  Bahkan pernah ponakannya mengajak pulang dan tinggal bersama dirumahnya, tetapi mak Nuhe enggan ikut dan lebih memilih tinggal sendiri.

Citra, salah seorang kerabat Nenek ini, mengatakan jika Nenek ini sangat mandiri dan tidak mau menyusahkan orang lain.

“Saya sudah sering Panggil ke rumah tapi dia tidak mau, katanya lebih suka tinggal sendiri,” beber Citra.

Ditengah hiruk pikuk modernisasi kota Pangkep, serta berdirinya pabrik pabrik tambang disekitarnya seperti Semen Tonasa dan Marmer masih kita temukan orang-orang yang hidup seadanya bahkan jauh dari kata layak.  Bahkan mereka bertahan melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal dan mampu menghidupi diri sendiri.  Terlepas dari keengganan beliau hidup bersama keluarganya, tidak adakah kepedulian pemerintah (Kementrian Sosial), khususnya pemerintah daerah kabupaten Pangkep terlebih lagi bagi PT.Semen Tonasa yang berada tak jauh dari rumah mak Nuhe terhadap orang-orang tua (jompo) seperti mak Nuhe ?.


Pemkab Pangkep semestinya memprioritaskan hal-hal yang “terlupakan” seperti kasus mak Nuhe dan jompo jompo tua yang lain tidak dibiarkan terlantar dan terlunda dalam menjalani usiaa tuanya, walaunpun dalam kasus mak Nuhe, semuanya berawal dari pilihan mak Nuhe sendiri.  Pemerintah daerah Pangkep pun, tak seharusnya tinggal diam, betapa menyedihkan, ditengah arus modernisasi dan gemerlap kota Pangkep yang di hiasi dengan berdirinya pabrik pabrik tambang megah disekelilingnya, permasalahan seperti ini dapat ditangani dengan segera dan komperehensif.

Sangat menyedihkan di tengah gencarnya pemda kabupaten pangkep berusaha keluar dari kategori kabupaten termiskin dan gencarnya PT. Semen Tonasa mengeluarkan CSR untuk daerah sekitarnya sementara disatu sisi ada masyarakat yang hidupnya dalam kekurangan, dan di sisi lain ada oknum pejabat hidup serba berkecukupan bahkan dengan tega menggarong uang Negara hanya demi memuaskan syahwat keduniawiannya.

Kemana perginya para Wakil Rakyat? Tak bisakah sedikit menunjukan rasa empati ketika ada kasus seperti ini? Takut dinilai pencitraan? Seharusnya tidak, sebagai wakil rakyat sudah selayaknya dan sepantasnya berbuat untuk orang-orang seperti mak Nuhe.  Tidak perlu takut dengan cap pencitraan jika bantuan yang diberikan dengan rasa tolong menolong dan ikhlas.


Diketahui Mak Nuhe Tinggal sebatang kara, tanpa penerangan listrik, dengan gubuk yang terbuat dari kayu tua dengan posisi yang sudah miring hampir roboh

Tak hanya itu, gubuk reok yang dia tempati hanya beratap pelepah daun nipa, meski jarak rumahnya hanya sekitar 500 meter dari kantor Desa Tabo-tabo dirinya jarang bertemu kedesnya.

Saat di awak media Sabtu 02/06/2018 di kampung Tabo-tabo Desa Tabo-Tabo Kecamatan Bungoro, dirinya mengaku sudah terbiasa tinggal di tengah hutan sendirian. Setiap harinya dia hanya berharap belas kasihan dari tetangga untuk makan.

Saat ini, Nuhe hanya berharap bisa mendapatkan haknya sebagai warga negara dan mendapatkan jaminan sosial untuk hidupnya.

(ADM-KP)

Posting Komentar untuk "MAK NUHE NENEK RENTA DAN MISKIN YANG TERLUPAKAN OLEH NEGARA"